Cerpen Guru

Mendung di Bukit Sengare

Cerpen Zulmasri

(Cerita lalu mengenang ulang almarhum Bapak Suparto)

 

            Hari ini pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Tiwi sudah membagikan lembaran soal. Dari tempat duduknya, ia menyaksikan keseriusan anak-anak dalam mengerjakan soal. Di bagian pojok depan sebelah kanan lihatlah, Sri Retno asyik menuliskan kalimat-kalimat jawaban sambil sesekali pulpennya diketuk-ketukkan pelan ke meja. Sri Retno adalah siswa kesayangannya. Ia termasuk pintar dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

            Di belakang Sri Retno ada Henry. Lengkapnya Henry Santoso. Ia bertetangga dengan Sri Retno. Kalau Sri Retno pintar Bahasa Indonesia, lain halnya dengan Henry. Ia suka pelajaran Matematika. Hampir setiap kali ulangan, Henry selalu mendapat nilai 100. Selain senang Matematika, Henry juga senang dengan olahraga. Hampir setiap even olahraga tak luput dari perhatiannya. Olahraga yang paling disukainya adalah sepak bola. Sering kali ia diskusi tentang berbagai pertandingan sepak bola di dalam dan luar negeri dengan Parto.

            Parto, ya Bu Tiwi ingat anak itu. Di kelas 8B SMP Negeri Bukit Sengare, ia terkenal jago dalam mata pelajaran IPA. Jangan tanyakan Hukum Newton padanya. Informasi tentang virus yang berjangkit di Wuhan pertama kalinya, Parto langsung mengetahuinya. Bacaannya luas. Ia suka membaca di perpustakaan atau mencari informasi melalui internet yang terdapat di ruang multimedia sekolah.

            Tapi hari ini Parto tidak kelihatan batang hidungnya. Bangkunya yang berada di pojok belakang sebelah kiri kelasnya terlihat kosong. Bu Tiwi menghela napas. Sudah tiga hari Parto tidak hadir. Tadi sebelum mulai ulangan ia sudah menanyakan kepada Fatur, tetangga terdekat Parto.

            “Ia masih sakit, Bu,” jawab Fatur saat ditanya.

            “Apa masih panas juga?” tanya Bu Tiwi.

            “Sepertinya begitu, Bu.”

            “Sudah diperiksakan ke puskesmas belum?”

            “Saya tidak tahu Bu,” jawab Fatur pendek.

            Bu Tiwi kembali menghela napas. Di kelas 8B ini ia wali kelasnya. Jumlah siswanya ada 20 anak. Pada saat sekolah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka, Pak Nurdiyanto, Kepala SMP Negeri Bukit Sengare memutuskan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran tatap muka secara penuh. Selain karena jumlah siswa yang terbatas jumlahnya, meja dan kursi yang tersedia pada tiap kelas juga memadai. Kegiatan tatap muka secara penuh ini juga sudah disetujui pihak dinas pendidikan di kabupaten.

            Dulu saat pandemi Covid-19 mulai melanda negeri ini, SMP Negeri Bukit Sengare ikut kena getahnya. Padahal sekolah ini cukup jauh dari pusat kota. Kecamatannya selalu termasuk kategori zona hijau. Tidak ada penduduk yang terkena gejala Covid-19.

            Sejak pandemi melanda dan pembelajaran berubah menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ), dengan menggunakan handphone (hp) itulah, pola belajar anak-anak mulai berubah. Guru menyampaikan materi pelajaran langsung secara daring. Dengan segala kreativitas para guru, anak-anak mulai membiasakan diri untuk bisa belajar secara daring.

            Pada mulanya banyak kendala yang muncul. Persoalan hp eror, aplikasi yang digunakan, kesulitan jaringan, hingga pada persoalan krusial seperti kuota. Namun dengan kesabaran para guru dan pihak sekolah, satu per satu persoalan ini bisa diselesaikan. Akan tetapi, ternyata selalu saja ada permasalahan yang muncul. Salah satu yang harus diselesaikan oleh pihak sekolah dan terutama oleh Bu Tiwi adalah tentang Parto.

            Bu Tiwi agak terlambat mengetahui hal ini. Pada saat pendataan nomor hp anak atau orang tua, semua anak menuliskan nomornya. Sebulan kegiatan PJJ berjalan, barulah Bu Tiwi mendapat laporan tentang Parto. Ia tidak pernah ikut pelajaran pada semua mata pelajaran. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata nomor hp yang dituliskannya itu tidak ada dalam kenyataan. Setiap kali nomor itu dihubungi, tak pernah bisa tersambung.

            Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Parto termasuk anak yang rajin. Ia selalu meraih nilai terbaik. Kalau saja diperingkat, mungkin ia meraih juara pertama setiap kali penerimaan rapor. Namun sejak sebulan PJJ diberlakukan, ia tak pernah ada kabar beritanya.

            Bersama Fatur, tetangga terdekatnya, Bu Tiwi kemudian berkunjung ke tempat Parto. Bu Tiwi harus berhati-hati saat melewati jalanan yang belum diaspal saat mengadakan kunjungan. Selain masih jalanan berbatu bercampur tanah perbukitan, jalanan menuju rumah Parto juga menanjak dan berliku. Khas jalanan daerah perbukitan.

            Di rumahnya yang sangat sederhana, Bu Tiwi barulah paham segalanya. Parto sebenarnya tidak punya hp. Ia menuliskan nomor hp asal-asalan saja, sekadar memenuhi pendataan yang dilakukan sekolah.

            “Saya malu, Bu,” jelas Parto saat itu. “Saya malu, karena hanya saya yang tidak punya hp.”

            “ Malu kenapa? Kamu kan harusnya bisa terus terang kepada Ibu.”

            Parto tak menjawab. Bu Tiwi mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan yang ada di dalam rumah. Rumah tanpa kamar dengan perabotan berupa dua tempat tidur, satu lemari tua, dan sebuah meja dengan tiga kursi plastik yang terlihat sudah sangat kusam.

            Saat Bu Tiwi datang, Parto hanya sendirian di rumah. Ia sedang membaca buku pelajaran yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Tak ada ibunya di rumah, apalagi bapak. Konon kabarnya, sejak Parto masih kecil, bapaknya sudah pergi meninggalkannya. Merantau ke Jakarta. Namun sejak pergi hingga hari ini, Bapaknya tak pernah lagi berkirim berita.

            Ada tetangga yang mengatakan kalau bapaknya kawin lagi di Jakarta. Parto pun pernah menanyakan perihal itu pada ibunya. Namun jawaban ibunya sangat ketus, agar ia tak usah menanyakan dan memikirkan bapaknya lagi.

            Oleh karena tidak punya hp, akhirnya Bu Tiwi berpesan agar besoknya Parto berangkat ke sekolah. Walau masih pandemi dan tidak ada yang berangkat, Bu Tiwi sudah punya solusi. Ia akan minta kepada kepala sekolah agar Parto bisa berangkat setiap hari dan menerima lembaran materi atau tugas dari para guru secara tertulis untuk dipelajari Parto di rumah.

Usulan Bu Tiwi pun kemudian disetujui dan menjadi keputusan sekolah pada akhirnya. Beberapa anak yang bermasalah dengan hp pun kemudian  juga mengikuti jejak Parto.

                                                                        ***

            Sore itu Bu Tiwi dengan mengendari sepeda motornya berkunjung ke rumah Parto. Angin perbukitan bertiup membawa butiran-butiran air di atas sana. Mendung melingkupi Desa Bukit Sengare.

            Bu Tiwi mempercepat laju kendaraannya. Suara motornya meraung memecah kesunyian desa.

            Tidak lama berselang, sampailah ia di rumah Parto. Bu Tiwi mengetuk pintu rumah Parto beberapa kali sambil mengucapkan salam. Namun tak terdengar ada jawaban. Oleh karena tidak ada jawaban, Bu Tiwi pun nekad membuka pintu rumah.

            Di dalam rumah ia mendapatkan Parto tengah terbaring di salah satu dipan. Beberapa buku pelajaran tergeletak begitu saja di lantai samping tempat tidurnya. Bu Tiwi segera menghampiri Parto dan meraba keningnya. Agak panas. Parto kemudian terbangun dan merintih memegang perutnya.

            “Kenapa, To?” tanya Bu Tiwi.

            “Sakit Bu. Perut saya sakit. Melilit”

            “ Lha, kamu sudah makan?”

            Parto tidak menjawab.

            “Ibumu di mana?”

            “Tidak tahu, Bu. Pagi-pagi sudah pergi dan belum pulang. Biasanya magrib baru sampai di rumah.”

Bu Tiwi beranjak ke meja dan membuka tudung penutup makanan. Tidak ada apa-apa di dalamnya.

            Bu Tiwi segera tanggap. “Tunggu sebentar, Ibu belikan makanan dulu ya.”

            Bu Tiwi segera keluar dari rumah. Ia langsung menuju warung makanan yang tadi dilewatinya saat akan berkunjung. Angin perbukitan bertiup kian kencang. Mendung di langit pun kian menebal.

            Segera saja Bu Tiwi kembali begitu selesai memesan nasi bungkus, teh hangat, dan beberapa makanan kecil. Ketika sampai kembali di rumah, dilihatnya Parto kembali tertidur.

            Bu Tiwi pun kemudian membangunkan Parto. Tapi tak ada tanggapan. Ia ulangi kembali membangunkan Parto dan mempersilakan untuk makan. Namun tetap tak ada jawaban. Dipegangnya bahu dan digoyangkan-goyangkan agar Parto bangun. Namun tubuh Parto tetap tak bergerak. Tak lama, isak tangis Bu Tiwi pun pecah.

Di luar mendung kian tebal. Angin perbukitan kian bertiup kencang, menelusup lubang ventilasi rumah. Bu Tiwi berjalan ke pintu rumah. Gerimis tipis mulai jatuh. Pada mendung yang tebal, Bu Tiwi menatap sekilas di kejauhan, Parto tersenyum dan melambaikan tangannya.

 

Zulmasri, Guru dan Koordinator Literasi SMPN 1 Sragi

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait