Rahma Aulia, siswa kelas 9.1 SMPN 1 Sragi meraih hasil terbaik dalam keikutsertaan mengikuti kegiatan penulisan cerpen Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) tahun 2024. Melalui cerpennya “Dimensi Di Balik Kunang” Rahma meraih prediket Duta Literasi Sekolah dan sekaligus cerpennya itu masuk 100 terbaik tingkat nasional. Untuk itu, Rahma Aulia diundang untuk mengikuti Festival Literasi Nasional (FLN) di Solo 24-25 Mei 2025 nanti.
Di Solo nanti, selain mengikuti berbagai kegiatan, juga akan diumumkan peringkat 1 sampai 3 dari 100 cerpen terbaik, di samping pengumuman juara untuk bidang lainnya. Ke Solo nanti, turut diundang Kepala Sekolah dan guru pembimbing literasi SMPN 1 Sragi.
Prestasi Rahma ini mengulangi prestasi yang dicapai tahun sebelumnya, saat Schifra Bianca Aurellia Arista tahun 2024 masuk 100 terbaik penulisan cerpen.
Di bawah ini akan ditampilkan secara utuh cerpen yang ditulis oleh Rahma Aulia. Selamat membaca!
-oooo-
DIMENSI DI BALIK KUNANG
Cerpen: Rahma Aulia
Seseorang yang sedari tadi terbaring pingsan selama beberapa jam pun bangun dengan keadaan terengah-engah, berkeringat dingin, dan detak jantungnya pun berpacu dengan cepat.
“Hah, aku berada di mana ini?” lirih Naya hampir tak terdengar sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar di gubuk tua, yang memiliki ruangan tak begitu luas, beberapa genting yang bocor, dengan beberapa dinding yang hampir roboh itu.
“Naya, kamu sudah bangun, Nak?” tanya wanita paruh baya yaitu nenek dari Naya, yang datang dengan membawa secangkir teh dan obat di kedua tangannya.
“Nenek siapa?” tanya Naya sedikit takut dan terkejut.
“Kamu setelah jatuh dari tangga jadi pikunkah?” jawab nenek Naya yang terkekeh dengan pertanyaan tersebut. Naya pun menggeleng karena tak setuju
“Haduh kamu ini, minum dulu obatnya lalu istirahat, malah tanya yang tidak-tidak,” jawab lembut nenek Naya sambil memberikan teh dan obatnya tersebut.
Naya yang berada di kamar sedang beristirahat dan melamun sendiri. Lalu ia melihat ada kaca di meja sebelah kasurnya itu dan langsung mengambilnya. Ia melihat wajahnya yang lusuh, lemas, rambut yang acak-acakan karena jarang disisir, dan wajah sekusut kain yang sudah dimakan usia, namun memiliki mata yang cantik dan indah. Saat Naya menaruh kembali kaca tersebut tiba-tiba kepalanya sangat pusing dan seakan-akan mengingat kejadian yang dialaminya, sebab sebelumnya ingatannya hilang sementara.
Ia menjadi ingat nama dari raga ini ialah Nayanika Fanara dan di panggil Naya. Ia sekarang duduk di kelas 12. Ia selalu dibully oleh teman-temannya karena penampilannya yang lusuh dan dianggap miskin. Ia tinggal bersama neneknya karena kedua orang tuanya sudah tiada sejak Naya masih kecil, dan selalu membantu neneknya membawa sayur-sayuran ke pasar sebelum ia berangkat ke sekolah.
Ia juga mengingat bagaimana ia bisa jatuh. Ketika itu dompetnya terjatuh dan tak diduga, ada kucing yang mengambil dompetnya dan membawanya pergi. Ia tak rela uang sakunya yang sudah ia tabung untuk satu munggu lenyap gara-gara seekor kucing saja. Kucing itu naik ke atas pohon, mau tak mau ia harus naik ke pohon tersebut menggunakan tangga karena ia tak bisa memanjat pohon. Namun ada tiga orang yang selalu membullynya dan mendorong tangga tersebut hingga ia jatuh dan kepalanya terbentur batu cukup keras. Ada benjolan di keningnya dan ingatannya hilang sementara.
“Naya apa kamu sudah baikan, Nak?” tanya nenek dari luar gubuk sedikit berteriak. “Kalau sudah, sini bantu nenek memanen sayuran untuk di jual besok pagi!” kata neneknya lagi.
“Iya aku ke sana, Nek,” jawab Naya yang sudah kembali merasa sehat setelah istirahat tadi.
Keesokan paginya, Naya sudah berpakaian rapi. Rambutnya ditata sedikit menutupi benjolan akibat benturan terkena batu saat terjatuh. Lalu ia membawa sayur-sayuran untuk dijual dengan neneknya ke pasar setelah itu langsung berpamitan ke sekolah. Tiba-tiba, ada mobil mewah berhenti di sampingnya. Naya tahu siapa pemilik mobil itu. Kaca mobil tersebut terbuka dan seseorang menyiram susu coklat ke bajunya hingga kotor dan basah. Ia pun langsung melihat pelaku yang menyiramnya itu.
Dan tak lain tak bukan anak itulah yang mendorongnya dari tangga dan selalu membully-nya.
“Ups, maaf ga sengaja, kukira di situ ada tempat sampah yang hidup dan berjalan,” ucap Moon dengan nada mengejek, dari dalam mobil mewahnya itu.
“Ahaha, bukannya memang cocok jadi tempat sampah ya,” ucap Naura teman Moon yang tertawa paling kencang.
“Bener si katamu Ra, memang cocok. Liat tuh benjolannya besar banget kaya bola bekel, “kata Cay sambil menunjuk kening Naya yang sudah ditutupi dengan rambut, namun masih terlihat rupa benjolan tersebut.
“Ahahaha…,” tawa mereka bertiga sambil menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya.
Naya hanya bisa menunduk takut dan matanya pun berkaca-kaca. Ia tak tahu harus bagaimana, akankah ia tetap berangkat sekolah namun bajunya sudah kotor terkena susu coklat. Tiba-tiba, tin…tin…, terdengar suara klakson motor yang berhenti di sampingnya.
“Naya, kenapa bajumu bisa kotor begitu?” tanya Katrine Neondo Putra, yang biasa di panggil Karine. Ia sahabat lelaki Naya dari SD sampai sekarang.
“Ayo naik, kamu pake dulu aja seragamku sementara, soalnya jam pertamaku olahraga,” ucap Katrine yang seolah tahu mengapa seragam Naya kotor.
“Memang kamu tidak keberatan? Tapi aku selalu ngerepotkanmu,” ucap Naya yang masih menunduk dan berdiri di tempat.
“Udahlah, aku ga merasa di repotin kok, kaya sama siapa aja huh,” ucap Katrine tersenyum
“Makasih ya, nanti kalo aku udah sukses aku balas semua kebaikanmu,” jawab Naya dengan semangat sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh.
“Oke deh, ayo naik kita berangkat bareng saja,”ucap Katrine.
“Oke kita berangkat,” ucap katrine menjalankan kembali motornya setelah Naya naik dan menuju sekolah.
Bel jam pertama pun berbunyi bertepatan dengan Naya yang sudah sampai di kelasnya dengan mengenakan baju seragam milik Katrine. Ia berjalan ke tempat duduknya, namun ada kaki yang tiba-tiba menghadang Naya hingga Naya terjatuh dan membuat tangannya menjadi berdarah akibat terkena kayu tajam di meja yang sudah rusak. Orang yang sengaja melakukan itu malah tertawa tanpa rasa bersalah.
“Ahahah, gitu aja jatuh dasar lemah,” ucap Moon dengan sangat kencang hingga membuat orang-orang dalam kelas tersebut ikut tertawa. Naya hanya bisa menahan sakit dan juga malu. Naya dan Katrine ingin melawan, namun mereka selalu mengancam dengan kekerasan yang didukung teman Moon yang pernah mengalahkan Katrine di turnamen tahun lalu.
Setelah pulang sekolah Naya melihat neneknya yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Neneknya terlihat lemas dan terbatuk-batuk di tempat tidurnya. Sepertinya, neneknya sudah masanya beristirahat dan tidak melakukan aktivitas terlalu berat.
Keesokan harinya di pasar Naya sudah menata sayur-sayurannya dengan rapih untuk dijual. Ia berencana menggantikan neneknya yang sedang sakit mumpung hari Minggu. Naya berjualan dengan tenang dan lancar, sebelum tiba-tiba ada dua preman kampung menghampirinya. Preman itu mnggodanya dengan kekerasan. Untung seseorang datang tepat waktu. Seseorang itu menghantamkan pukulan dan jurus silatnya kepada preman-preman kampung itu.
“Kamu baik-baik saja, Nay?” tanya Katrine yang menghampiri Naya dengan sedikit cemas.
‘Aku tidak apa-apa, terimakasih Kat. Untung kamu ada di sekitar sini,”ucap Naya yang masih terkejut dan takut.
“Syukurlah jika kamu tidak apa-apa,”jawab Katrine lega. Mereka pun membereskan dan merapikan kembali sayur-mayur yang berantakan. Saat membereskan dagangannya akibat kekacauan tersebut, Naya sesekali bersenandung merdu.
“Kenapa kamu tidak ikut kontes menyanyi lewat online saja? Kamu bisa mengirimkan lewat email. Siapa tahu dapat menambah keuangan keluargamu. Aku yakin kamu bakal juara. Suaramu merdu sekali,” ucap Katrine semangat dan memuji Naya.
“Ah, aku tidak terpikirkan sejauh itu. Aku juga tidak memiliki gadget untuk mngirimkan ke emailnya,”jawab Naya ragu.
“Jika itu masalahnya, mudah saja. Kamu bisa meminjam laptopku!” seru Katrine semangat. Setelah dipikirkan cukup lama Naya pun menyetujuinya.
Keesokan harinya sesuai dengan janjinya, ia mendaftarkan diri untuk mengikuti kontes menyanyi. Lalu Naya pun mengirimkan suara emasnya dan tinggal menunggu beberapa hari untuk mengetahui siapa pemenangnya.
“Oke sudah terkirim,”ucap Katrine setelah menekan tombol send.
“Terimakasih Katrine, kamu memang sahabatku yang terbaik,” ucap Naya sambil tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
Saat sedang mengobrol dengan Katrine tak sengaja mata mereka melihat Moon dan teman-temannya sedang berbicara sambil marah-marah ke preman-preman kampung itu. Betapa terkejutnya mereka mendengar pembicaraan Moon dan preman-preman itu. Ternyata preman-preman yang mengacaukan dagangan Naya adalah suruhan Moon dan teman-temannya. Katrine yang membawa handphone memvidiokan pembicaraan antara Moon, Naura, Cay, dan preman-preman itu.
Keesokan harinya Naya dan Katrine berencana untuk melihat CCTV di dekat kejadian Naya terjatuh. Mereka berhasil menyimpan video tersebut ke gadget milik Katrine. Lalu mereka langsung ke ruang kepala sekolah menemui Pak Iqrom selaku kepala sekolah. Ia meminta agar Pak Iqrom mendatangkan Moon, Cay, Naura, serta orang tua mereka untuk melihat semuanya. Setelah semua berkumpul, Naya menjelaskan dengan sedih semua kejadian-kejadian yang ia alami selama ini dan menunjukan bukti tersebut. Moon dan teman-temannya hanya bisa menunduk takut. Orang tua mereka sangat marah besar dan malu karena anak-anaknya tak punya adab.
“Moon, Cay, Naura! Kalian dikeluarkan! Sebab tindakan kalian sangat keteraluan. Untuk masalah pembulian ini kalian dapat ke jeruji besi atas dasar tuntutan pencemaran nama baik dan kekerasan!” lanjut Pak Iqrom dengan serius.
“Kamu ini sungguh memalukan. Ayah dan ibu tidak pernah punya anak yang tidak tahu adab sepertimu ini!” ucap ayah Moon berteriak dan marah besar.
“Itu semua palsu ayah, jangan percaya dengan orang miskin dan pembohong seperti dia!” teriak Moon tanpa rasa bersalah.
“Cukup! Kamu ini benar-benar anak kurang ajar,” ucap ayah Moon dan menampar keras pipi Moon hingga merah dan lebam.
Setelah kejadian tersebut Moon memohon agar ia dimaafkan. Kedua orang tua Moon juga memohon agar memaafkan anaknya dan tidak melaporkannya ke kantor polisi. Karena Naya memiliki hati yang lembut dan baik hati, ia memaafkan kesalahan-kesalahan teman-temannya yang sudah keteraluan itu.
Beberapa hari kemudian Naya mendapatkan kabar gembira dari Katrine, Ia memenangkan kontes menyanyi yang ia ikuti beberapa hari yang lalu.
“Nayanika Fanara memenangkan kontes menyanyi yang diadakan oleh Yupi dan berhak mendapatkn hadiah uang senilai Rp30.000.000,00 dan mendapat pelatihan khusus dengan pelatih profesional secara gratis,” suara Naya antusias membaca pengumuman. Ia sangat terharu sampai air matanya tak bisa dibendung lagi dan menangis bahagia.
“Selamat Nayanika Fanara, kamu berhasil membuatku bangga dan kesuksesanmu sudah ada di depan mata,” ucap Katrine ikut bahagia dan juga terharu.
Beberapa tahun kemudian Naya sudah menjadi penyanyi terkenal dan ia sudah menjadi sukses seperti janjinya. Namun beberapan minggu kemudian, nenek Naya meninggal dunia. Sekarang Naya hidup sebatang kara. Namun Katrine selalu ada di sampingnya. Tak lama, Katrine melamar Naya dan ingin selalu bersamanya. Naya pun bahagia dan bersyukur atas rezeki yang selalu Tuhan berikan dan hidup bahagia.
Sragi, September 2024