Bayangan Putih
Cerpen Fariza Yusfania

Seperti biasa, kota kecil itu selalu padat. Entah apa yang dilakukan oleh masyarakat sehingga kota kecil itu terlihat padat. Jalanan-jalanan di kota itu pun selalu macet saat pagi hari. Ada yang pergi bekerja, sekolah, ada juga truk-truk yang membawa angkutan barang, serta bis dan mobil yang membawa penumpang. Tidak lupa, kota itu selalu berisik. Kota ini disebut kota Aramda.
***
Di sisi lain, toko yang hangat dan memiliki aroma yang khas pun terlihat sibuk. Bagaimana tidak sibuk toko itu sedang kedatangan banyak pelanggan dan tampaknya mereka sedang membicarakan topik yang banyak orang bicarakan.“Heran, dia sekaya apasih? sampai-sampai dia membantu Ibu Asri membayarkan semua utangnya.”tanya Bu Marni kepada teman-temannya.“Iya juga ya, tetapi sebenarnya dia itu siapa?”ujar Bu Hesti.
Para ibu-ibu di toko itu pun saling berpandangan, seolah-olah sedang mencari jawaban dalam pikiran masing-masing. Sosok misterius itu adalah sosok yang gemar membantu tanpa ada yang tahu identitasnya. Beberapa warga pernah melihat“sosok”itu bermunculan, ia selalu membantu orang dengan caa bersembunyi, dan setelah membantu ia selalu kabur.
“Saya kemarin sempat bertanya dengan Bu Asri, Bu Asri pun juga tidak megetahui siapa orang yang membantunya.” kata Bu Siti. “Sosok itu hanya tertawa kecil dibalik maskernya dan berkata tidak perlu tahu namanya, karena yang penting adalah kebaikan yang diberikan, bukan siapa yang melakukannya.” Bu siti melanjutkan perkataan tadi.
Disamping meja mereka, terdapat seorang lelaki yang tersenyum tipis mendengar percakapan itu. Ia memilih untuk melanjutkan kembali mendengar obrolan dari Ibu-ibu tersebut dan sembari mendengarkan obrolan itu ia menikmati hidangan yang ia pesan. Beberapa menit setelah makanan yang ia pesan habis, ia memutuskan untuk beranjak pergi dari meja itu untuk membayar makanannya, setelah itu baru ia pergi dari toko tersebut.
***
Hari-hari pun berjalan normal, berita tentang sosok misterius yang selalu membantu warga pun mulai menyebar luas. semua tempat di kota itu membicarakan sosok misterius, sampailah berita itu terdengar ketelinga seorang jurnalis lokas yang bernama Adi.
Sebagai jurnalis lokal, dia selalu tertarik akan cerita unik, Adi merasa tertarik untuk mencari tahu siapa sosok misterius itu. Adi pun mempersiapkan berbagai macam seperti membawa kamera, buku catatan, dan pulpen. Setelah selesai mempersiapkan alat-alat tadi, Adi mulai bertanya kepada warga.
“Saya tidak tahu itu dia atau bukan, saya melihat dia sedang memberi uang kepada seorang kakek pemulung.”kata seorang Bapak-bapak yang bekerja sebagai pencabut rumput.“Si kakek pemulung berterima kasih, namun ia menolak dan mengembalikan lagi uang itu kepada pria yang memberinya, namun sang pria menolak kemudian kabur ntah kemana.”
“Dia juga membelikan saya sebuah makanan seminggu yang lalu,”tambah Pak Danis, seorang kuli bangunan.“Saya ingin membayarnya pada saat saya sudah punya uang, jadi saya meminta nomor telefonnya. Namun dia menolak dengan senyuman tipis dan berkata tidak perlu membayarnya, karena ia ikhlas untuk membelikan saya sebuah makanan.”
Semakin banyak warga yang ia wawancarai, semakin penasaran Adi dibuatnya. Tak ada satupun warga yang mengetahui nama pemuda itu, dan tak ada yang tahu dimana ia tinggal. Semua yang mereka ketahui ialah dia hanya muncul saat sesorang sedang kesusahan.
“Ini sangat menarik,”gumam Adi.“Jika aku bisa menemukan lalu mewancarainya, dan memasukkannya kedalam sebuah artikel pasti ini akan menjadi berita yang besar!”
***
Malam pun tiba, Adi memutuskan untuk mengelilingi beberapa jalan di kota itu setelah selesai baru ia beranjak pulang. Berharap saat mengelilingi jalanan di kota itu ia menemukan sosok misterius itu. Tak menyangka, sudah 30 menit Adi berjalan di jalanan itu ia masih tidak menemukan apapun, musnah sudah harapan Adi.
Ketika harapan Adi musnah, mata Adi tak sengaja menangkap satu momen menarik. Ia melihat seseorang sedang memberi makanan dan minuman kepada seorang pengemis . Hati Adi berdebar sangat kencang. Dalam hatinya bertanya, mungkinkah dia orang misterius yang dibicarakan orang-orang?
Adi pun mendekat secara perlahan. Sekarang posisi Adi berada tepat di belakang punggung orang misterius itu. Dengan ragu, Adi memengang lengan orang itu. Orang tersebut kaget dan diam sejenak, lalu baru ia menoleh ke arah Adi. Dalam cahaya yang redup, Adi samar-samar melihat wajah orang itu. Kemudian ia kaget saat melihat wajah orang itu.
“Kau…” Adi tercengang, karena ia tahu siapa dia.
Orang itu tersenyum tipis dan bertanya pelan, “Kenapa?”
Adi menggelengkan kepalanya lalu bertanya, “Kau adalah CEO, benar kan?”
Orang itu mengangguk. Adi masih tercengang, jantungnya berdegup lebih cepat. CEO yang selama ini ia lihat di berita dan majalah itu, kini berdiri di hadapannya. Ia adalah CEO yang bernama Ega Waleluyo.
“Tapi… kenapa?” Adi membuka suara.“Kau sudah memiliki segalanya mulai dari kejayaan, jabatan, dan kekuasaan. Kenapa harus repot begini?”
“Sudah-sudah, kita bicarakan ini saja di kafe terdekat, agar bisa lebih tenang,” sahut Ega.
***
Sekarang mereka berdua sudah sampai ke sebuah kafe kecil modern yang masih buka. Mereka pun masuk ke kafe itu dan mencari tempat duduk. Setelah mendapat tempat untuk diduduki mereka memesan minuman sesuai selera masing-masing. Adi duduk dengan jantung yang masih berdegup kencang. Tidak mungkin orang yang selama ini membantu ternyata Ega Waleluyo, CEO muda yang masuk daftar miliarder yang berpengaruh dalam kota itu.
“Kau pasti bertaya-tanya mengapa aku melakukan semua ini,” kata Ega sembari mengaduk kopinya yang ia pesan. “Tentu saja!” jawab Adi.“Kenapa kau membantu orang tanpa mengungkap siapa dirimu?”
Ega tersenyum mendengar itu. “Karena aku ingin merasakan bagaimana rasanya membantu tanpa ada embel-embel nama besar, tanpa pujian, tanpa liputan media. Aku lahir dari keluarga yang tidak mampu, maka dari aku membantu mereka karena aku tahu rasanya berada di titik itu. Dan dulu saat aku kecil aku berjanji ketika aku sukses aku ingin membantu mereka yang memang butuh bantuan.”
Adi terdiam sejenak.
“Aku tidak butuh penghormatan karena kekayaanku, aku hanya ingin mebantu mereka, meski tidak tahu siapa aku.”
Adi pun terdiam lagi, mencerna kata-kata itu. Selama ini, ia mengira orang kaya hidup hanya untuk memperkaya dirinya dan memamerkan harta mereka. Ternnyata salah besar. Dihadapannya seorang miliarder yang rela turun ke jalan, membantu mereka yang tak mampu tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun.“Sekarang kau tahu rahasiaku, aku minta tolong jangan tulis ini ke dalam artikel,”ucap Ega.
Adi mengangguk tersenyum. Di saat inilah Adi mendapat kesempatan untuk belajar arti kebaikan sesungguhnya, Adi juga menyadari satu hal bahwa kebaikan sejati tidak selalu butuh nama, tapi selalu berdampak bagi dunia.
Sragi, Januari 2025
(Fariza Yusfania, siswa kelas 8.1 SMP Negeri 1 Sragi)
*******************************************
SEMUANYA BELUM USAI
Cerpen: Nadhira Syahla

Jakarta, 21 Agustus 1998, pukul 16.00 WIB. Sore hari aku duduk di tepian pantai dengan berbalut dress putih. Mataku lurus menghadap langit sore yang indah. Tidak terasa matahari hampir terbenam. Dalam lamunan, aku memikirkan kekasihku Nala. Ia adalah cinta pertamaku sejak dulu. Dia orang yang bijaksana, penyabar, serta bertanggung jawab atas semua yang ia miliki. Kami menjalin hubungan hampir 5 tahun. Semua masa-masa indah serta pilu sudah kami lalui bersama. Sekarang kami sedang menjalani hubungan jarak jauh atau biasa di sebut dengan LDR. Kata LDR pasti tidak lagi asing di kalangan anak-anak muda gaul. LDR adalah singkatan dari Long Distance Relationship, ya memang diambil dari Bahasa Inggris. Jadi pasti anak-anak muda sudah sering dengar istilah ini. Namun, dengan melakukan hubungan jarak jauh tidak semua orang bisa menjalaninya kalau tidak adanya kesabaran, kepercayaan, kesetiaan, dan komitmen antara satu sama lain. Kesetiaan bukan hanya menjaga perasaan satu sama lain tetapi juga membangun sebuah kepercayaan.
Aku sebenarnya tidak suka menjalani hubungan seperti ini, bukan karena sudah tidak sayang ataupun cinta. Namun terkadang aku merasa penat dengan gaya hubungan semacam ini. Kami sudah 6 bulan LDR-an itu bukan waktu yang singkat untukku, tetapi apa boleh buat kalau takdirnya harus seperti ini. Ini memang pekerjaannya yang tidak bisa ditinggalkan. Nala mempunyai perusahaan kayu yang cukup terkenal di kota Bandung serta ada pembukaan cabang baru. Itu sebabnya dia ke sana. Walaupun Nala kelihatanya sibuk, ia tetap menyisihkan sedikit waktu untukku, bahkan ia bisa ke Jakarta 4 kali dalam sebulan untuk bertemu serta menghabiskan waktu denganku.
Ada berbagai momen bahagia yang sangat kukenang ketika berpacaran dengan Nala. Salah satunya merayakan hari ulang tahunku pada tanggal 12 April 1995. Nala mengajakku berkeliling dan menyusuri setiap sudut yang ada di Kota Bandung menggunakan sepeda motor berwarna hitam saat malam hari. Lampu-lampu kota sudah mulai menyala dan memancarkan cahaya yang terang serta indah. Sambil mendengar kan lagu Sheila on Seven, lagu kesukaan kami berdua sejak awal pacaran, kami berbagi cerita dan canda tawa pada malam itu serta tidak lupa mengambil foto menggunakan kamera jadul milik mama yang sering kubawa. Hari yang kuanggap istimewa dengan cara merayakan hari spesialku sangat unik dan tentunya secara tiba-tiba. Selalu ada kejutan setiap harinya dari Nala.
Namun, tidak kusangka hal ini akan terjadi pada keluargaku dan Nala. Di tahun yang sama tahun 1995, hal buruk menimpaku. Aku merasa gagal dan hilangan harapan saat itu. Semuanya benar-benar tak terduga olehku mulai dari papa yang sering pulang larut malam dan hal itu membuat mama curiga apakah papa mempunyai wanita lain selain mama. Ternyata kecurigaan mama benar. Aku tidak menyangka papa melakukan hal menjijikan seperti itu, berzina dengan perempuan lain. Hal itu membuat mama marah. Mereka juga sering bertengkar. Hampir setiap hari, aku yang mendengarkan pertengkaran mereka. Pusing, kepalaku mendengarkan suara-suara bising yang tidak nyaman.
“Berisik…,” ucapku perlahan sembari menyalakan musik supaya tidak terdengar lagi pertengkaran tesebut yang entah kapan selesainya.
“Mas, apa-apaan kamu bawa perempuan lain ke rumah di saat aku kerja mati-matian buat keluarga kita? Kamu malah seenaknya begitu di rumah ini!” teriak mama seraya meneteskan air mata di pipinya.
“Berisik. Lagian aku udah ga peduli sama anakmu itu. Terus siapa yang nyuruh kamu buat kerja? Ga ada,” balas papa dengan suara yang tidak kalah keras sembari meninggalkan mama di ruang tamu sendirian.
Aku tahu pasti berapa hancurnya hati mama saat melihat seseorang yang dicintainya bersama dengan wanita lain. Aku segan untuk menghampiri mama. Karena aku tahu mama ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu, lalu bercerita denganku tentang kejadian ini. Aku sudah mendengar percakapan tersebut walaupun volume musik yang kunyalakan sudah full, tapi tetap saja suara papa dan mama tidak kalah keras dari musik itu. Aku sedih dan kecewa pastinya. Aku bertanya-tanya dalam kepalaku, kenapa ya papa jadi seperti itu? Bahkan papa sudah tidak memperdulikan aku dan mama. Apa rasa cinta papa sudah habis pada mama? Apa semua pengorbanan yang mama berikan tidak cukup untuk papa? Apa mama punya kekurangan dan kekurangan tersebut dimiliki oleh wanita lain? Semua pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul di benakku. Aku bingung.
Mama juga sering mendapatkan perlakuan tidak enak dari papa. Beberapa hari ini papa sering melakukan kekerasan terhadap mama, seperti memukul tangan dan kaki mama secara terus-menerus hingga menyebabkan luka-luka memar kebiruan di tubuh nya. Terkadang papa juga melempari botol kaca ke arah mama tanpa alasan yang jelas. Rumah selalu berantakan setiap aku pulang dari kampus. Papa jadi sering pulang dengan keadaan mabuk, bau alkoholnya sangat pekat di bajunya. Mama sangat sabar menghadapi papa bahkan setelah kejadian ini, mama masih bisa melayani papa dengan baik layaknya suami istri biasa. Aku bingung hati mama terbuat dari apa? Sudah disakiti tetap saja baik.
Papa melakukan hal hal keji seperti itu saat aku sedang tidak ada di rumah karena kuliah ataupun magang. Kuliahku juga hampir terhenti karena kejadian ini. Ekonomi keluargaku yang tadinya lebih dari kata cukup sekarang kurang untuk membiayai kuliahku. Karena masalah keluargaku tadi membuat bisnis keluarga kami gulung tikar. Jadi aku harus berusaha untuk membiayai kuliah serta membantu mama bekerja. Setelah bisnis keluargaku merosot, papa malah semakin membuat mama dan aku menderita. Aku ingin melaporkan kejadian ini ke polisi karena luka-luka memar di tubuh mama semakin terlihat jelas. Mama jadi sering memakai baju lengan panjang setiap ke luar rumah untuk menutupi luka memarnya. Mama juga semakin kurus. Tanpa sepengetahuan mama dan papa, aku mengumpulkan barang bukti atas terjadinya tindak kekerasan terhadap mama dan aku foto luka lebam yang ada di tangan atau kaki mama, berkas-berkas yang di butuh kan serta cctv yang ada di rumah ini. Aku selalu rajin mengecek cctv untuk melihat papa melakukan apa saja kepada mama. Aku bergegas melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Semua proses sudah kujalani untuk membuat papaku jera akan perbuatan nya. Aku sudah tidak memikirkan orang-orang akan bilang aku anak durhaka ataupun yang lainnya. Siapa yang ingin punya papa yang seharusnya menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya malah melakukan kekerasan terhadap istri dan anaknya? Aku juga tidak mau, tapi takdir ini malah datang ke keluargaku.
Sekarang keadaan mama kritis di rumah sakit karena tadi pagi ia lemas hingga pingsan. Jadi aku langsung cepat membawanya ke rumah sakit. Aku tidak henti-hentinya berdoa untuk mama agar bisa pulih kembali. Aku takut kehilangan mama. Nanti aku tidak punya siapa-siapa lagi. Nala sekarang sudah tidak ada kabar lagi. Dia masih berada di Bandung. Sudah beberapa bulan ini dia tidak pulang ke Jakarta, bahkan kalau pulang dia tidak mampir untuk bertemu denganku. Di saat aku membutuhkan dia untuk menjadi sandaran, dia malah tidak ada di sini untuk menguatkanku dan berkata semua akan baik-baik saja. Hanya aku yang berada di rumah sakit ini. Sendirian menemani mama. Apalagi papa yang memang sudah tidak peduli lagi dengan mama. Mama berada di rumah sakit pun juga karena perbuatannya itu membuat aku kesal dan dia seenaknya jalan bersama dengan wanita lain. Sudah tua tapi masih saja berulah.
Beberapa hari kemudian, aku dikabarkan oleh temanku Yaya. Yaya mengirimkan foto yang di dalamnya terdapat Nala dengan sahabatku berpegangan tangan. Yaya mengirimkan pesan lagi untukku. Katanya Nala berpacaran dengan sahabatku, sudah 3 bulan yang lalu. Tapi kenapa harus sahabatku yang menjadi pacar barunya? Tidak ada wanita lainkah selain sahabatku? Bahkan hubunganku dengan Nala belum ada kata putus karena ia menghilang tiba-tiba. Semua pesan yang kukirim juga tidak dibalas. Air mataku menetes terus-menerus membasahi pipiku. Hatiku yang belum pulih karena masalah keluarga ini, dihantam lagi oleh kejadian yang menyakitkan. Hatiku lagi-lagi hancur oleh seorang lelaki di hidup ku. Laki-laki yang kukira baik malah mengkhianatiku. Perlakuan Nala yang manis apa semuanya bohong? Dadaku sakit sekali saat membaca pesan dari Yaya.
Tanpa kusadari mama melihat ke arahku dengan tatapan yang lembut. “Sayang, kamu kenapa menangis? Ada yang nyakitin kamu ya?” tanya mama.
Aku segera menghapus air mata di pipiku. “ Ah, enggak Ma, aku ga nangis,” Aku menjawab dengan tersenyum sambil berjalan ke arah mama yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit dan langsung memeluknya. Tangisku pecah, aku tidak kuat menahan semua beban ini. Perasaan campur aduk itu membuatku semakin erat memeluknya.
“Sayang, kalau ada apa-apa cerita ya, Nak. Jangan dipendam sendiri. Kan ada mama di sini. Mama tau kamu lagi ada masalah.” ucap mama sambil memeluk dan mengusap rambutku secara perlahan. Aku rasanya tidak bisa menjawab sepatah kata pun. Aku hanya bisa mengangguk dan memeluk mama tambah erat.
Dua bulan kemudian, akhirnya mama dan papa resmi berpisah. Perasaanku campur aduk, antara senang ataupun sedih. Senang karena akhirnya mama berpisah dengan lelaki jahat seperti papa, tapi juga sedih harus berpisah dengan papa. Papa memang bukan kepala keluarga yang baik untuk kami, tapi ia tetap orang tua kandungku. Dadaku sesak, menahan tangis. Siapa yang ingin orang tuanya berpisah? Pastinya tidak ada kan. Semua anak menginginkan keluarga yang harmonis. Begitu pun aku.
Mama sudah pulih dan dapat kembali ke rumah melakukan aktivitas seperti biasanya. Mama belum kubolehkan untuk bekerja. Lagi pula aku sudah mempunyai pekerjaan tetap yang gajinya cukup untuk membiayai kebutuhan rumah serta kuliahku yang hampir selesai. Hidup berdua bersama mama adalah hal yang tidak pernah kubayangkan. Semuanya kami lakukan bersama-sama, menciptakan suasana rumah yang hangat setiap harinya. Mama tampaknya lebih bahagia dari sebelumnya. Aku sangat bersyukur bisa mempunyai mama yang selalu berusaha melindungi dan menguatkanku padahal aku tahu, saat itu mama juga sedang lemah.
Mama mempunyai hobi baru yaitu memasak kue-kue kering yang biasanya selalu ada saat bulan Ramadan ataupun cookies yang tentunya lezat karena dibuat dengan penuh kasih sayang yang tulus dari hatinya. Bahkan mama sekarang mempunyai toko kue di samping rumah bernama Jollycake. Di sana terdapat berbagai jenis kue ataupun roti. Aku sangat senang banyak pelanggan yang berdatangan untuk mencoba kue buatan mama. Mama tidak sendirian melayani para pelanggan, tapi ada aku, Yaya, dan beberapa pegawai mama.
Bulan Desember, hari Senin tanggal 11 tahun 2004. Aku resmi lulusan sarjana kedokteran gigi dari universitas yang ada di Indonesia. Betapa senangnya aku hari ini dapat menyelesaikan kuliah ku dengan ipk yang cukup tinggi. Ditambah dengan kehadiran mama. Di sini rasanya aku tak lepas dari mengucapkan syukur karena mama masih bisa melihat putri satu-satunya ini menjadi seorang sarjana kedokteran gigi. Aku juga tidak menyangka bisa lulus kuliah padahal kemarin banyak musibah yang menimpaku terutama ekonomi yang merosot. Hampir saja aku berpikir untuk tidak melanjutkan kuliahku tapi berkat mama dan kuasa Yang di Atas, aku bisa menyelesaikan kannya dengan baik.
Setelah acara kelulusan selesai, aku langsung bergegas menjenguk papa. Papa menangis melihatku dan langsung memelukku dengan erat. Aku tidak tega melihat papa menjadi kurus karena berada di dalam sel penjara. Jadi aku dan mama biasanya selalu membawakan makanan ataupun kue. Papa berkata ia menyesal melakukan hal tersebut. Papa juga merasa bangga bisa melihat putrinya ini mendapat sebuah gelar. Tangis mama dan aku pecah, walaupun sudah disakiti berulang kali mama tetap sayang dengan papa, begitupun aku. Aku senang bisa membanggakan kedua orang tuaku. Meskipun orang tuaku berpisah aku selalu berusaha untuk tetap bersilaturahmi antarsatu sama lain. Sebelum berpamitan untuk pulang dan karena waktu jenguk sudah gak bisa. Aku berswafoto bersama papa dan mama dengan menggunakan kamera jadul. Semuanya tersenyum di foto itu. Rasanya kehangatan dulu kembali muncul. Foto yang indah dan berharga untukku.
Aku pulang kerumah dengan perasaan lega, kembali beraktivitas seperti biasanya. Tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu disertai suara, “Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam, sebentar,” jawabku membuka pintu. “Nala? Mau apa kamu ke sini?” ujarku sambil membukakan pintu.
“Aku ingin ngasih kartu undangan pernikahanku. Jangan lupa datang ya sama mama. Aku pamit dulu. Assalamu’alaikum,” ucap Nala sambil menyerahkan undangan pernikahannya dan langsung pergi meninggalkanku.
Aku terdiam sejenak memandang undangan pernikahan berwarna biru dengan hiasan gold yang menonjol di pinggirannya. “Nala sudah mau menikah, apa aku harus datang?” ucapku perlahan sambil menutup pintu. Aku segera berlari ke kamar berdiam diri sejenak mencerna apa yang baru saja terjadi, Nala yang datang kepadaku hanya untuk mengirimkan undangan pernikahannya. Aku tersenyum, sambil membuka undangan tersebut. Nama Nala dan sahabatku terpampang jelas. Aku menghela nafas panjang dan berkata semua akan baik baik saja. Lagi pula aku dan Nala sudah putus jadi tidak masalah. Aku sudah ikhlas dengan semua yang terjadi kepadaku.
Aku jadi mengingat masa masa sulit yang telah kulewati. Hal tersebut membuatku bersyukur karena menjadikan aku kuat dan sabar. Malam ini rasanya aku akan melepaskan semua rasa kesal, sedih, marah dengan menulis semua kejadian yang telah kujalani. Hari ini aku menulis semua di buku jurnalku sambil mendengarkan lagu Dewa 19 yang merupakan band favorit mama dan aku, ditemani dengan suara hujan deras dengan petir yang menyambar sampai larut malam. Tentu aku tidak lupa untuk memasang foto yang kuambil tadi siang di dinding kamarku sehingga setiap hari aku bisa melihatnya. Perjalanan hari ini semuanya terasa menyenangkan. Banyak sekali hal-hal yang membuatku untuk lebih bersyukur. Aku yakin perjalananku belum usai sampai di sini, tetapi masih banyak perjalan seru yang akan kutempuh di kehidupan dewasaku ini.
Sragi, Agustus2024