Cerita Inspiratif

Harus Naik Kelas

 

Pada awalnya, rapat kenaikan kelas berlangsung biasa-biasa saja. Namun ketika harus memutuskan naik atau tidaknya seorang siswa (sebut saja namanya Doni), terjadilah perdebatan yang panjang. Beberapa guru dengan berbagai argumennya berusaha mempertahankan agar Doni tidak naik kelas. Di sisi lain, wali kelas dan beberapa guru lainnya mendukung agar sang anak yang sedang diperdebatkan itu naik.

Alasan dari guru-guru yang mempertahankan agar Doni tinggal kelas sangat jelas. Dalam kesehariannya, sang anak terkenal nakal, suka mengusili teman, dan beberapa kali bolos sekolah. Rata-rata nilai akhlak dan kepribadiannya pun tidak mencapai B sebagai salah satu persyaratan kenaikan.

Di sisi lain, dengan alasan wajib belajar 9 tahun, guru-guru yang merasa kasihan dengan nasib Doni berusaha semaksimal mungkin agar Doni tetap bisa naik. Di samping itu, diharapkan saat pengambilan rapor oleh orang tuanya, wali kelas bisa menyampaikan pesan-pesan agar Doni bisa lebih baik nantinya.

Bagian Kurikulum yang memimpin rapat kenaikan kelas itu pun tidak bisa memutuskan, karena dua kubu sama-sama kerasnya. Pada akhirnya, ia pun menyerahkan persoalan itu pada kebijakan Sang Kepala Sekolah.

Kepala Sekolah pun tersenyum dan setelah itu barulah angkat bicara. “Saya minta guru BK menyampaikan latar belakang Doni sebelum anak itu kita putuskan naik atau tinggal kelas.”

Guru BK terkesiap. Ia pun kemudian membuka lembaran data Doni dan mulai membacakannya. Doni anak desa yang rumahnya cukup jauh dari sekolah. Berangkat ke sekolah berjalan kaki, terkadang menumpang dengan temannya yang membawa kendaraan. Ia beberapa kali dipanggil ke ruang BK terkait beberapa pelanggaran, antara lain berkelahi dengan temannya, pakaian tidak rapi, dan beberapa kali bolos sekolah.

“Anda sudah melakukan home visit?” tanya Kepala Sekolah.

“Sudah, Pak. Dua kali dalam semester ini.”

“Lalu bertemu orang tuanya?”

“Tidak Pak. Saya hanya bisa bertemu dengan neneknya.”

Sang Kepala Sekolah kemudian menganggukkan kepala. Suasana menjadi sunyi. Para guru menunggu fatwa yang akan keluar dari mulut kepala sekolah.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, ada hal yang belum saya dengar dari tadi perihal anak kita, Doni. Ketahuilah, saya juga sudah berkunjung ke orang tuanya. Kalau guru BK sudah melakukan kunjungan rumah dua kali, Alhamdulillah saya sudah tiga kali ke sana.

Di samping itu, saya sudah mengetahui seperti apa anak ini. Dia sudah ditinggalkan bapaknya sejak usia 6 tahun. Anak yatim. Dibesarkan oleh neneknya. Bila kemudian ia menjadi anak yang nakal, suka bolos, dan sebagainya, ini bukan salah dia. Ini tugas kita, karena kitalah sekarang orang tuanya. Bapak-bapak dan Ibu-ibulah sekarang sebagai orang tuanya, di sekolah dan luar sekolah. Alangkah berdosanya kita bila kita menyia-nyiakannya.

Nah, bila anak itu selama ini dianggap nakal, sudahkah Bapak-bapak dan Ibu-ibu maksimal dalam mendidiknya?”

Suasana menjadi diam. Tak ada yang berani angkat bicara.

“Baik. Saya putuskan, untuk anak yang bernama Doni naik kelas. Bila ada yang tidak setuju, silakan disampaikan.”

Sesaat diam. Sejurus pun diam. Tak lama, rapat pun selesai.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait