Catatan Kecil

Catatan Kecil tentang A.A. Navis

Oleh: Zulmasri

Tidak kenal Ali Akbar (A.A.) Navis? Berarti Anda bukan pembaca karya sastra Indonesia yg baik.

Lewat karyanya “Robohnya Surau Kami”, kita dibawa pada suasana yg tetap saja bisa kita temukan pada saat sekarang. Padahal karya fenomenal itu sudah berusia setengah abad lebih.

Saya termasuk beruntung karena bisa mengenal lebih dekat sosok ‘pencemooh’ itu, walau tidak terlalu akrab. Saat masih di Padang dulu, beberapa kegiatan kesusastraan senantiasa melibatkan Navis, baik sebagai pembicara maupun penanggap.

Perjumpaan terakhir saya dengan Navis terjadi di INS Kayutanam (30-31 Maret 1996) dalam kegiatan Temu Karya dan Diskusi Sastra Penyair Sumatera. Sebelumnya di tempat yg sama, saya juga berjumpa dengan Beliau selaku tuan rumah secara intens pada kegiatan Bengkel Penulisan Kreatif (26 Januari-6 Februari 1994). Selain sebagai tuan rumah, Beliau juga menjadi pembicara bersama Wisran Hadi, Harris Effendi Thahar, Gus Tf, dan Bre Redana.

Ada beberapa hal yg tetap saya ingat dari sosok sastrawan sederhana itu. Pertama, Navis adalah pribadi yg akrab dan gampang diajak diskusi, walau kadang terkesan ‘pambangih’ dan tukang cemooh. Kedua, Navis seorang yg konsisten. Sikap ini ditunjukkan dengan ketidaksetujuannya dg mereka yg dalam hidupnya hanya melakukan ritual agama tanpa mau memikirkan kehidupan dunia atau sebaliknya. Bagi Navis kehidupan itu harus seimbang antara kebutuhan dunia dan akhirat, persis seperti tema cerpen “Robohnya Surau Kami”. Selain itu, untuk jadi hebat orang tidak harus hijrah ke Jakarta, cukup karyanya saja yg hijrah. Ketiga, bagi Navis kerja adalah bagian dari ibadah. Sebagai penulis, Navis mengatakan bahwa menulis bukanlah pekerjaan mudah, tapi memerlukan energi pemikiran serius dan santai.

Navis lahir di Padang Panjang 17 November 1924 dan wafat di Padang 22 Maret 2003. Selama hidupnya Navis banyak melahirkan karya berupa cerpen, novel, sandiwara, esai sosial budaya, dan biografi. Beberapa karyanya memperoleh penghargaan, baik di dalam maupun luar negeri.

Bagaimanakah ciri karya bermutu menurut Navis? Sederhana saja, jika karya itu bisa tetap hidup dan bertahan lama, meskipun pengarangnya telah telah dipanggil Ilahi. Agaknya, hingga kini Navis mampu membuktikan apa yg diucapkannya itu.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait